Bulan lalu, Richard and Claire datang mengunjungiku di Indonesia. Untuk menghindari prasangka dan gede rasa yang berlebihan, mari kita luruskan bahwa mereka datang ke Indonesia untuk mengunjungi David, anak mereka, dan kebetulan saja ada Nadia di Indonesia
.
Banyak hal yang terjadi, banyak pelajaran yang dipetik, dan juga banyak hati yang tersangkut.
Sebelum lupa, aku akan menuliskan satu hal yang akan merubah pandangan masa depan. Setidaknya bagiku sendiri.
Selama dua minggu mereka di Indonesia, yang bisa aku ingat adalah banyaknya waktu yang kami habiskan di bandara. Menunggu terbangnya pesawat Batavia yang akan membawa kami ke Balikpapan dan juga Yogyakarta. Pada kedua kesempatan itu, tentu saja pesawatnya ditunda, bahkan sampai empat jam. Tapi baiklah, post ini bukanlah post protes terhadap Batavia. Tidak baik memprotes airlines ketika terbang dengan tiket gratis beserta pilotnya pula. Tidak bersyukur itu namanya.
Jam-jam menunggu pesawat tersebut akhirnya malah mendekatkan kita semua. Bagi yang lupa, Richard dan Claire adalah orang tua dari Host program yang aku ikuti di Skotlandia dulu. Mereka adalah orang-orang berhati murni seputih salju yang menutupi rumah cantik mereka di tepi danau Shieldaig. Cinta dan kasih sayang mereka melimpah ruah, berpendar-pendar kesegala penjuru. Selain papa mama, mereka adalah orang-orang yang membuat hati ini malu kalau tidak bersyukur dan berprasangka baik tentang hidup.
Di salah satu sesi menunggu kami di pojok cafe bandara, akhirnya topik itu muncul juga. Topik tentang pekerjaanku. Topik yang sangat-sangat ingin aku hindari untuk saat ini. Tatapan putus asa, meminta pertolongan untuk mengalihkan topik ke David, diacuhkannya dengan senyuman jahil. Dia tau setau-taunya bagaimana tidak nyamannya aku dijadikan pusat perhatian. Atau bagaimana aku selalu menghindar untuk berbicara tentang perasaan. Tapi toh, dia selalu menikmati saat-saat aku salah tingkah.
Akhirnya dengan susah payah aku harus menjelaskan tentang pekerjaanku. Demi Tuhan pemberi nikmat, bukannya aku tidak bersyukur tapi aku tidak nyaman dengan pekerjaan ini. Bakerja sebagai editor di majalah hedonist, bukan, dan tidak akan pernah menjadi impian hidupku. Aku percaya Tuhan tidak memberikan beasiswa dan mengirim aku ke Inggris untuk ikut membodoh-bodohi wanita Indonesia tentang unrealistic image of ideal women. Pekerjaan ini bertentangan dengan moral mendasar dan prinsip hidupku. Aku ingin menjadi berguna.
Satu hal yang aku ingat dari sesi curhat bandara ini adalah kejelasan. Selama ini aku selalu menghindar dari membicarakan hal ini, baik ke David ataupun ke teman lain. Namun di sore itu, di depan Richard and Claire, walaupun awalnya terpaksa, akhirnya aku ‘berbicara’, akhirnya aku menyadari dan mengakui adanya masalah. Akhirnya aku jujur, terutama kepada diri sendiri. Kalau aku tidak nyaman dengan keadaan ini. Dan untuk itu aku harus harus mengubahnya. I need to take action, I need to quit. Sangat bukan Nadia untuk bermental sebagai korban. Karena Nadia berarti Harapan.
Hal lain dari sesi refleksi sore itu adalah tentang menulis dalam Bahasa. Claire bertanya kenapa aku tidak mencoba berkerja di media Indonesia. Jawabannya mudah, aku tidak bisa menulis dalam Bahasa Indonesia. Dia heran, David heran, kenapa tidak bisa. Dan aku jawab, ‘It’s just easier for me to write in English’. Dan ketika mengatakan itu, aku baru menyadari betapa sombongnya jawaban itu. Kenapa tidak bisa, sedangkan darahku murni Indonesia?
Jawabannya sebenarnya simple, ketika aku mulai menulis. Ketika aku mulai bercerita di blogs, aku menulis dalam Bahasa Inggris. Aku selalu berkata aku tidak bisa menulis bagus dalam Bahasa Indonesia. Tapi kenapa tidak? Jadilah aku membuat mental note, aku akan ‘belajar’ menulis dalam Bahasa Indonesia. Bahasa Ibuku, Bahasa yang akan aku ajarkan ke anak-anak ku nanti, terlepas dari apakah mereka akan menjadi pure or mix blood. Dan usaha itu dimulai dari postingan ini yang susah payah aku tulis dalam Bahasa Indonesia.
Aku percaya selalu ada alasan untuk segala peristiwa.
Mungkin Richard dan Claire bukannya datang ke Indonesia just for the sake of visiting. Mereka dikirim oleh Tuhan yang Maha perhatian untuk sekali lagi menjadi cermin refleksi bagiku.
Untuk membantuku sekali lagi menemukan arah hidup.
Sekali lagi.
Seperti yang dulu mereka lalukan di tepi danau Shieldaig di Skotlandia.

Keep Commenting, People!